.::. Galeh Aji Wedding Organizer .::.

Paket Pernikahan Yogyakarta || Paket Pernikahan Murah Yogyakarta

Anda pastinya pernah mengalami suatu masa di mana  Anda  merasa sulit beradaptasi dengan situasi yang ada setelah baru menikah. Buka...

Penyebab Pengantin Baru Susah Adaptasi

By 1/14/2015 , , , ,



Anda pastinya pernah mengalami suatu masa di mana Anda merasa sulit beradaptasi dengan situasi yang ada setelah baru menikah. Bukan hanya Anda saja loh. Sulitnya adaptasi bagi pasangan pengantin yang baru menikah memang sering dialami oleh banyak pasangan pengantin baru. Kondisi di mana pengantin baru sulit beradaptasi adalah hal yang wajar. Meskipun demikian, tetap harus dicari penyebab-penyebabnya. Menyatukan dua individu yang berbeda memang bukanlah perkara yang mudah. Meskipun atas dasar cinta, suami-istri adalah individu yang tetap kuat dengan egonya sendiri-sendiri.

Setiap individu pastinya memiliki misi, visi, dan pola pikir yang berbeda. Dan kemampuan beradaptasi tiap individu juga pastinya berbeda, tergantung pada banyak hal di sekitarnya. Ada yang bisa langsung beradaptasi dengan kehidupan barunya, yaitu kehidupan yang bernama ‘rumah tangga’. Dan ada juga yang ‘jetlag’ dengan perubahan-perubahan situasi yang saat ini tengah dihadapi. Pastinya ada banyak perbedaan antara situasi dan rutinitas saat masih single dulu dan situasi/ rutinitas setelah menikah. Lantas, bagaimana cara mengatasi adaptasi yang terkesan kurang lancar ini? satu hal yang pasti dilakukan adalah mencari tahu sebab-sebab sulitnya beradaptasi dengan kehidupan yang baru. Tujuanya agar terhindar dari hal-hal yang membuat kehidupan rumah tangga menjadi lebih rumit. Berikut ini ada beberapa penyebab sulitnya beradaptasi dengan suasana kehidupan ‘rumah tangga’.

1. PRASANGKA BURUK

Prasangka buruk akan mudah sekali muncul jika kedua pasangan tidak mampu berbicara dari hati ke hati. Tentu saja ini akan mengancam keharmonisan rumah tangga yang baru saja dibangun. Situasi ini akan bertambah buruk jika ada perbedaan budaya diantara kedua pasangan. Contohnya saja, istri yang terbiasa dengan gaya bicara yang lemah lembut, sedangkan suami terbiasa berbicara dengan nada keras. Gaya bicara suami yang keras dan tegas bisa disalahartikan oleh istri sebagai ekspresi ketidaksukaan atau kemarahan.


2. ADANYA CAMPUR TANGAN ORANG TUA

Setelah menikah usahakan untuk tidak menyertakan pendapat orang tua dalam kehidupan rumah tangga. Rumah tangga adalah tanggung jawab suami-istri sepenuhnya. Campur tangan orang tuanya justru akan menjadi sumber konflik baru dalam sebuah rumah tangga. Jadi, saat sedang mengalami ‘krisis’ rumah tangga, selesaikan secara baik-baik dengan pasangan. Kedua pasanganlah yang tahu betul titik permasalahan rumah tangganya.

3. ‘KITA’, BUKAN ‘SAYA’

Sudut pandang pasangan setelah menikah haruslah diubah. Jika dulu adalah ‘saya’ kini wajib diubah dengan sudut pandang ‘kita’. Semua hal yang berkaitan dengan rumah tangga harus dilakukan untuk kepentingan bersama, bukan lagi untuk kepentingan suami atau istri. Jauhi juga prioritas atau keinginan pribadi. Usahakan untuk penuhi keinginan atau prioritas bersama.


4. PERBEDAAN BUDAYA

Sepanas apapun konflik rumah tangga yang sedang terjadi, sebaiknya jangan menyinggung sedikitpun tentang budaya. Hal ini hanya akan memperparah konflik.

Sumber : berbagai sumber 



You Might Also Like

0 komentar